Perjalanan untuk melanjutkan sekolah keluar negeri bagi saya bukanlah hal yang mudah. Butuh usaha dan kerja keras, semangat yang tidak boleh luntur dan doa yang tidak pernah berhenti saya panjatkan. Bagi saya yang seorang dosen di perguruan tinggi negeri di Balikpapan, Institut Teknologi Kalimantan, S3 adalah hal yang wajib. Meskipun dosen memiliki pilihan untuk kuliah di dalam negeri atau di luar negeri, bagi saya yang sejak lulus S1 memiliki keinginan studi di luar negeri, maka mimpi S3 di luar negeri, saya upayakan untuk bisa diwujudkan.
Flashback ke tahun 2011 ketika saya lulus S1 dengan nilai
yang memuaskan, waktu itu saya mencoba untuk melamar ke jurusan ocean
engineering di Norwegian University of Science and Technology (NTNU). Kampus
ini adalah kiblat nya bagi seorang ocean engineer. Waktu itu, melamar beasiswa
ini, kita hanya butuh mengirimkan berkas lamaran kita dengan pos yang
dialamatkan langsung ke kampus nya di Norwegia sana. Yang menjadi permasalahan
saya adalah TOEFL ITP yang saya miliki mentok di nilai 503 saat itu, padahal
yang dipersyaratkan adalah TOEFL ITP 550 (read:
yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri, bisa persiapkan Bahasa Inggris
sedini mungkin). Setelah 2 bulan saya mendapatkan pengumuman bahwa saya tidak lolos
untuk beasiswa di NTNU. Hal ini membuat saya memutuskan mengambil tawaran
beasiswa untuk lanjut studi S2 di almamater S1 saya di Surabaya. Setelah lulus
S2 dan menjadi dosen di ITK, saya pun beberapa kali mengajukan beasiswa,
melalui skema Newtonfund Ristekdikti pada tahun 2016 dengan kampus tujuan University
College London. Namun apadaya jangankan nilai IELTS, test IELTS pun saat itu
saya belum pernah. Pada tahun 2017, saya mencoba BUDI LN Kemenristekdikti ke
Pusan National University dan saya pun masih belum lolos untuk mendapatkan
beasiswa itu dan hanya menjadi cadangan dari 50 orang yang diterima saat itu. Sampai
akhirnya di tahun 2018 saya mencoba Australia Awards Scholarship dengan kampus
tujuan The University of Western Australia.
Dan disinilah saya sekarang, menuliskan cerita ini dari unit
apartemen Everett Crawley ditengah liburan musim panas yang kurang sehari lagi.
Flashback perjalanan pencarian beasiswa itu, mengingatkan saya bahwa saya harus
gagal beberapa kali terlebih dahulu sebelum akhirnya berhasil. Begitulah hidup,
sehingga jangan pernah takut untuk mencoba. Dan benar adanya kata pepatah bahwa
kegagalan itu sesungguhnya sukses yang tertunda. Thomas Alva Edison pun gagal
sebanyak 9.998 kali sebelum akhirnya menemukan bola lampu pijar. Sehingga Anda
yang membaca sepenggal cerita ini dan sedang berjuang untuk mengejar mimpinya,
saran saya, Jangan Menyerah (seperti judul lagu D’masiv).
Oh ya, jika ada yang penasaran kenapa akhirnya saya bisa
mendapatkan nilai Bahasa Inggris untuk studi keluar negeri, padahal kelemahan
saya dari dulu adalah Bahasa Inggris, ada cerita tersendiri untuk hal itu. Jadi
meskipun saya gagal di tahun 2017 mendapatkan beasiswa BUDI LN, dengan berbekal
dokumen yang sama, saya mencoba mendaftar program Peningkatan Kemampuan Bahasa
Inggris (PKBI) yang ditawarkan oleh sumberdaya ristekdikti. Saya dinyatakan
lolos menjadi peserta dan mendapatkan pelatihan IELTS secara intensif selama 3
bulan sampai akhirnya saya memiliki score yang bisa saya gunakan untuk
mendaftar beasiswa. Di tahun berikutnya, sayapun mendapatkan kesempatan untuk
mengikuti Bridging program dari sumberdaya ristekdikti juga ke National Taiwan
University of Science and Technology (NTUST). Program ini semakin meningkatkan
kepercayaan diri saya ketika harus berkomunikasi full Bahasa Inggris. Terima
kasih Ristekdikti (sebelum menjadi Kemendikbud lagi, ya).
Banyak cerita seru ketika memulai S3 ini. Dimulai dari
kedatangan di tengah musim panas di awal Januari tahun 2020, dan saya beruntung
gelombang heatwave sudah lewat. Namun tetap saja saya merasa amaze dengan pagi
hari yang datang lebih cepat dan juga aroma segar dari papermint. Hari pertama,
saya mencoba memasak mi untuk sarapan, dan waktu saya habiskan dengan
menghidupkan kompor. Saya kira secanggih film-film di TV yang tinggal klik klik
untuk menghidupkannya. Ternyata membutuhkan lighter dan letaknya yang
tersembunyi membuat saya susah untuk menemukan untuk menghidupkan si kompor. Setelah sarapan mi yang dibuatnya dalam waktu
sejam (termasuk upaya menghidupkan kompor), saya diharuskan untuk bertemu
dengan pihak sponsor di Student Central UWA. Berbekal dengan gmaps, sampailah
saya ke Student Central yang membawa saya berkeliling UWA terlebih dahulu,
karena melalui Lawrence Wilson Art Gallery dan Winthrop Hall. Padahal seharusnya,
saya yang tinggal di Fairway bisa langsung menyeberang ke Ezone dan James Oval
untuk ke Student Central.
Seminggu pertama, saya selalu bangun jam 4 pagi. Kebiasaan
dari Balikpapan adalah tidur tanpa menutup tirai, sehingga jam 4 yang sudah
terang menderang, membuat saya bangun lebih awal. Sayapun langsung jalan pagi,
explore sekitar Matilda Bay dan merekam matahari terbit. Sebulan pertama diisi
dengan kegiatan pengenalan kampus dari pihak sponsor dan saya bersama awardee
yang lain mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan sama sekali
belum menyentuh kehidupan PhD. Supervisor yang saya kontak sebelum ke UWA
sedang pulang kampung ke China dan baru kembali awal Februari, sehingga membuat
saya tidak memikirkan riset dan kawan-kawan. Saya hanya sibuk mengumpulkan
barang-barang untuk mengisi rumah baru di Cook St melalui group FB Buy Nothing
Nedlands/Dalkeith. Dan sayapun mencoba bekerja menjadi distributor katalog dari
Salmat Hub. Setiap hari saya berada di fase honeymoon.
Akhir Februari, supervisor mengabarkan bahwa beliau sudah
ada di Perth dan saya menemui beliau sekaligus dikenalkan dengan supervisor 2
dan 3. Saya diminta untuk enroll yang memang sudah dijadwalkan tanggal 24
Februari dan menyelesaikan semua persyaratan higher degree students yang baru
enrol. Meeting pertama dengan supervisor hanya pengenalan satu sama lain dan
kami berencana meeting 2 minggu lagi untuk membahas topik riset dan kami
sepakat bahwa meeting akan diadakan setiap 2minggu sekali.
Meeting pertama akan diadakan tanggal 16 Maret 2020, saya
akan menyampaikan rencana riset saya dan apa riset yang sudah saya pernah
kerjakan di Indonesia. Jadwal meeting direncanakan di IOMRC building dimana
ketiga supervisor saya memang berkantor disana. Sayapun menyiapkan power point
berisi rencana research project dan bersiap untuk meeting. Sehari sebelum
meeting saya mendapatkan email dari Vice Chancellor bahwa karena penyebaran
virus corona bahwa perkuliahan akan dilakukan online dan kampus siap-siap untuk
lockdown. Waktu itu saya masih tetap optimis bahwa meeting akan tetap diadakan
face-to-face karena masih ada waktu seminggu sebelum kampus lockdown total.
Namun apa daya, pagi hari sekitar jam 8 saya mendapatkan email dari supervisor
bahwa saya harus merubah skema meeting jam 9 pagi menjadi online dengan
menggunakan zoom. Hanya tersisa waktu satu jam dan saat itu saya tidak tahu apa
itu zoom dan lainnya. Akhirnya dengan sedikit panik (sampai sekarang pun setiap
mau bertemu supervisors, tetap panic dan deg-degan. Entah kenapa perasaan ini
tidak bisa dihilangkan), saya mencoba mencari tahu, menginstall, dan mengirim
undangan untuk zoom. Pengalaman saya dengan zoom untuk pertama kalinya ini,
membuat saya can relate dengan quote
“Tak Ada Hal Yang Tak Bisa Dipelajari”, asal Anda mau belajar.
Meeting pertama online dengan ketiga supervisors pun
berlangsung lancer. Semula saya yang rencananya akan langsung mengadakan
experiment pada pipa yang bersilangan untuk melihat scouring (read: erosi
dibawah pipa) berganti menjadi sandwave dan efeknya terhadap pipa. Dan yang
dari murni experiment ada tambahan numerical modelling yang ketika diliat murni
coding dengan fortran di linux environment (butuh waktu lama bagi saya untuk
memahami ini semua). Hasil meeting pertama ini adalah saya diminta untuk mencari
literature review tentang sandwave dan berusaha memahami nya dan bagaimana
nanti untuk memodelkan nya (sampai sekarang pun ini masih menjadi PR terbesar
saya).
Empat bulan pertama perjalanan PhD saya yang harusnya bisa
khusyuk berdoa gagal karena harus lockdown di rumah. Lockdown membuat saya
merasa memiliki waktu 24 jam untuk bekerja namun pada akhirnya malah tidak
efektif sama sekali. Karena saya malah sibuk melihat berita perkembangan virus
di dunia dan Indonesia khususnya, terlalu rajin telpon-telponan dengan orang
rumah, mencoba berbagai macam resep kue, membuat dalgona coffee yang sedang
viral, mengikuti berbagai macam pelatihan di Coursera dan LinkedIn learning.
Menurut saya itu hanyalah usaha pelarian saya dari tugas Literature Review yang
harusnya saya kerjakan. Sampai akhirnya setelah 2 bulan, saya menyadari bahwa
progress literature review saya sangat lambat, saya bertanya kepada diri
sendiri setiap hari sampai tidak bisa tidur, mencari jawaban di google mengenai
yang saya rasakan, dan saya malah menemukan kata kunci depresi.
Saya masih tidak mempercayai bahwa saya depresi dan stress,
karena saya masih bisa tertawa ketika menonton drama korea, saya hanya tidak
bisa produktif. Kemudian saya membaca sebuah email dari Vice Chancellor
mengenai fasilitas wellbeing yang disediakan UWA. Namun ketika saya telepon
mereka mengarahkan saya untuk menuju ke website nya. Dan ketika saya mencoba
untuk booking konsultasi, mereka mengarahkan saya untuk mengisi formulir
terlebih dahulu. Ada banyak pertanyaan, hampir sebagian besar menanyakan
perasaan saya dengan sebuah rentang nilai. Ketika formulir sudah terisi, saya
mendapatkan solusi berupa dokumen Pdf 50 halaman yang memuat tentang bagaimana menghadapi
depresi selama lockdown. Salah satunya adalah membuat rutinitas meskipun berada
di dalam rumah, tetap olahraga kecil, berjemur jika memungkinkan, berinteraksi
dengan teman serumah (jika ada) dan lainnya. Menurut saya, hal-hal ini cukup
membantu, apalagi sayapun memutuskan untuk tidak membuat dalgona coffee lagi,
karena saya sangat lemah terhadap kafein. Dan di akhir Mei 2020, library sudah
buka kembali dan sayapun bisa bekerja kembali disuasana yang lebih kondusif.
Pelajaran saat saya depresi selama lockdown ini, memberikan pelajaran bahwa
“sama seperti jiwa, mentalpun bisa sakit. Jika merasa sudah tidak tertahankan,
jangan ragu untuk mencari pertolongan dari instansi atau tenaga ahli
professional dibidang ini”.
Sesuai dengan persyaratan departemen saya bahwa saya harus
enrol minimal di satu amta kuliah, di tahun 2021 saya enrol di mata kuliah GENG5501
Coastal and Offshore Engineering. Mata kuliah ini ditawarkan untuk master
degree di departemen Civil Engineering dan Ocean Graduate School. Tolong cek
departemen Anda masing-masing, karena setiap departemen, meskipun satu
universitas, kebijakannya berbeda-beda. Termasuk juga kewajiban untuk
menghadiri seminar rutin jurusan yang dijadwalkan setiap minggu. Saya selalu
berpikir, coba saja kuliah S3 itu seperti kuliah S1 dan S2 yang ada waktu
jelas, silabus jelas, bahan sudah tersedia. Namun kembali lagi saya
mengingatkan diri sendiri. Ingat, kamu itu kuliah S3, mengambil Doctor of
Philosophy (PhD atau DPhil; Latin Philosophiae Doctor), ini adalah gelar
terakhir dari perjalanan anda. Ya wajar jika tidak mudah. Wajar pula tidak sama
dengan saat anda kuliah S1 dan S2. Hal ini harus selalu saya ingat kembali.
Perjalanan PhD itu sesungguhnya seperti perjalanan ninja
hatori. “Mendaki gunung lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudera.
Bersama teman bertualang. Tempat yang baru belum pernah terjamah.” Jika saya
hubungkan dengan perjalanan PhD, bait pertama dan kedua menjelaskan bagaimana
perjalanan PhD itu bisa naik dan turun semangatnya untuk bekerja. Kadang kala
ketika kita menemukan sebuah literature review yang sangat relevan, menjadi
semangat kembali membaca nya. Demikian juga ketika harus menggunakan numerical
modelling yang menginstallnya pun butuh waktu seminggu untuk mempelajarinya,
memahaminya setiap hari namun merasa tetap bodoh, sehingga hampir patah
semangat. Sampai akhirnya mampu menjalankan program dan test case yang
dimaksud, sungguh kebahagiaan yang sederhana. Sampai sangat rajin untuk
memposting setiap keberhasilan running model tersebut.
Bersama teman bertualang artinya mencari teman seperjuangan
PhD, membentuk support system, berkumpul bersama, berbagi cerita, makan dan
hangout bersama. Sehingga tetap bahagia meskipun supervisor belum menyetujui
untuk defense dan candidature dan menundanya hampir 2 tahun. Tempat baru yang
belum pernah terjamah disini saya hubungkan dengan ilmu dan hal baru yang
selalu saya temukan di research saya. Research project saya merupakan barang
baru buat saya, setiap membaca selalu menemukan hal-hal baru lainnya. Namun
disinilah seninya ketika S3 itu, belajar sendiri topik yang anda dalami, maka
akan semakin terbuka ilmu-ilmu baru yang berkaitan yang anda bisa pelajari
juga. Never-ending learning process, mungkin tidak hanya dikedupan S3, namun
dikehidupan sehari-haripun juga tetap berlaku. Namun dikehidupan S3 ini, proses
belajar terus menerus ini sangat terasa sekali (Namanya memang menjadi student
lagi kan ya).
Sharing dengan rekan sesama PhD memberikan saya sebuah
pelajaran yang sangat berharga. “Everyone has their own journey, don’t compare
with others. Be grateful for everything”. Setiap orang memiliki perjalanan PhD
berbeda-beda, tidak usah memaksakan diri untuk sama seperti mereka. Mereka yang
jurnalnya sudah publish di high ranking jurnal, yang sudah mengikuti conference
diberbagi tempat, yang sudah menulis manuskrip, yang sudah selesai mengumpulkan
data, yang sudah wisuda dan kembali ke negaranya. Selalu mensyukuri setiap
proses yang dilalui selama PhD dan menikmati perjalanan langkah demi
langkahnya. Tidak usah pula menyalahkan diri sendiri karena merasa selalu
kurang bekerja keras, karena tidur lebih awal, karena weekend tidak bekerja,
karena jalan-jalan dan liburan dan karena banyak hal lainnya. Selalu
berterimakasih kepada diri sendiri, karena sudah selalu sehat, karena masih
bisa tertawa dan membuat orang lain tertawa, karena sudah bertahan jauh dari
keluarga, karena sudah mewujudkan mimpi untuk kuliah di negeri orang, karena
sudah berteman dengan yang lain, dan sudah berbagi kebahagiaan dan cerita
dengan lainnya.
Dipenghujung cerita ini, I want to say, Thank you myself for
the incredible being that you are, for all the wonderful things you have done
for others, and for everything you have been through so far. Thank you myself
for always persistence and giving love and laugh for others. I give thanks and
big appreciation for myself, my body, my mind and my world.
(LPA)
Komentar
Posting Komentar